Kupu Kupu Kertas: Salah Langkah Bahu Memikul
Buku 1 : Alang Alang Liar
Penulis: Parewa
Bab 3 : Kupu Kupu Kertas
Kupu kupu kertas
Tiga hari yang lalu.
"Apaa?, Reysa hamil?"
"Iya paman" nada datar dari seberang.
"Jangan mengada-ada kamu Rina!" Bentak pak Hasim pada keponakannya.
Rina Arnelia adalah keponakan pak Hasim, anak dari saudara perempuannya. Rina juga berkuliah di Padang, satu kampus dengan Reysa.
"Benar paman, Reysa juga sudah dikeluarkan dari kampus dua minggu yang lalu" Rina menjelaskan kepada pak Hasim tentang sepupunya itu.
"Sekarang dia hanya di tempat kost, tidak ada kegiatan apapun" Rina menambahkan.
"Tidak mungkin" pak Hasim mendesis setengah tidak percaya dengan kabar dari keponakannya. Tapi itulah kenyataannya.
"Coba saja paman hubungi Reysa sekarang" usul keponakannya itu lagi kepada sang paman.
"Baiklah!" Tanpa basa-basi lagi telpon langsung diputus oleh sang paman mungkin dia sedang kesal mendengar kabar tidak enak itu atau mungkin juga dia lagi terguncang.
Pak Hasim diam beberapa menit mungkin memikirkan sesuatu, dan tidak lama kemudian dia mulai menelpon putri kesayangannya Reysa.
"Hhalo ayah" terdengar suara lembut dari seberang, namun agak sedikit gugup.
"Iya, halo gimana kabarmu Rey?" Tanya sang ayah selembut mungkin tapi penuh selidik.
"Aku baik baik saja ayah, ada apa ayah nelpon Rey malam malam, apa ada yang penting?" Terdengar suara keingintahuan dari sang putri. Memang sangat jarang pak Hasim menelepon anaknya malam hari, jika tidak penting.
"Tidak ada apa-apa Rey"
Diam sejenak.
"Oh ya, besok ayah ada urusan bisnis ke Padang, setelah selesai ayah mampir di tempat kost kamu ya" pak Hasim hendak menguji anaknya.
"Ngg.. tapi ayah, aku besok kuliah dari pagi sampai sore?!" Reysa gelagapan berusaha agar ayahnya tidak datang ke tempat kostnya.
"ayah hanya sebentar saja, lagian ayah kan kenal sama pak salamat, pemilik kosan itu, nanti bapak ketemu dia saja, kamu di kampus juga nggak apa-apa" sebagai orang tua tentu saja pak Hasim sudah curiga dengan sikap putrinya.
Hening sejenak.
"Tapi pak salamat lagi nggak disini ayah, dia lagi pergi ke Pekanbaru" gadis itu sangat lancar berbohong.
"Lagian disini hanya anak-anak mahasiswi kost semua, aku takut ayah merasa risih dengan mereka" kebohongan yang ditutupi dengan kebohongan lainnya. Padahal pemilik kost ada di tempat dan rumah itu beradu dinding.
"Ya sudahlah kalau begitu, ayah nggak jadi singgah di tempat kamu" Pak Hasim mengalah namun ada hati yang tergores. Dia sekarang mulai yakin setengahnya dari kabar yang di sampaikan Rina. Tidak ada pilihan, dia besok akan datang ketempat itu untuk memastikan.
Setelah berbincang-bincang beberapa saat, akhirnya telepon ditutup.
"Huhhhft" gadis itu melenguh panjang.
Reysa melempar handphone miliknya sembarangan di kasur, hatinya sangat kesal. Bagaimana tidak, dalam situasi yang sangat gawat seperti ini ayahnya malah ingin menjenguk nya. Dia tidak ingin kabar kehamilannya sampai ke kampung halaman, itu akan membuat orang tuanya marah besar.
Reysa memandangi perutnya yang mulai ada perubahan dan makin hari perubahan itu semakin terasa. Semua itu berawal dari kejadian siang itu di kampus, gadis itu pingsan dan teman teman Reysa bersama sama membawanya ke klinik, dari hasil pemeriksaan ternyata Reysa hamil, maka tersebar lah berita kehamilan itu dengan cepat. Mulut orang tidak mungkin di bungkam semuanya apalagi masalah aib, penyebarannya secepat api yang membakar ranting kering.
Sedangkan calon bapak dari bayi itu tidak mau bertanggung jawab, mereka semua beralasan....
"Bukan aku saja yang melakukan itu dengan mu"
"Mungkin itu anaknya di A"
"Mungkin itu anaknya si B"
Reysa memang memiliki beberapa orang cowok dan semuanya pernah tidur dengan gadis itu. Itulah masalahnya. Sekarang gadis itu terpojok sendirian dan tidak ada seorangpun diantara cowok cowoknya yang bersedia bertanggungjawab.
Sebenarnya Reysa sudah bertekad untuk membunuh janin itu, dia berniat untuk menggugurkan kandungannya, tapi belum bertemu dengan sang ahli.
Nah disaat yang gawat seperti itu ayahnya mau mampir, tentu saja Reysa akan bersikeras agar pak Hasim tidak datang ketempat kostnya, setidaknya sampai masalah kandungannya selesai di hilangkan.
Lama gadis itu merenungi apa yang telah terjadi pada dirinya, hingga tidak terasa waktu terus berjalan, malam terus merangkak perlahan bersamaan dengan kantuk yang mulai menyerang mata dan kemudian gadis itu mulai tertidur sambil memeluk aib yang sedang meruyak nasibnya.
Pukul 10:20 WIB keesokan harinya.
"Reysa!" Terdengar suara pak Hasim di luar memanggil.
"Reysa buka pintunya" kali ini nadanya naik lebih tinggi.
"A..a ayah!" Reysa terpekik kaget, bagaimana tidak dia baru saja di bangunkan oleh suara yang sangat ditakuti dan dihindari nya saat ini dan sekarang si pemilik suara itu ada di depan pintu kamarnya.
Gadis itu terlonjak dari tempat tidur, kebingungan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan nyawanya seperti hilang separuh.
"Cepat buka Reysa!" Sekarang suara itu berubah jadi bentakan yang sempurna.
"I..i..iya ayah!" Gadis itu terbata, tidak tahu harus menjawab apa lagi.
Pintu terbuka, ayah dan ibu Reysa langsung menerobos masuk tanpa basa-basi.
"Reysa, apa yang kamu lakukan?"
"Jam segini kamu masih tidur?"
"Katanya kamu kuliah?"
"Apa yang terjadi sebenarnya?"
Pak Hasim memburu anaknya dengan beberapa pertanyaan sekaligus nadanya masih tinggi, sementara mata tua itu menyapu ke seluruh ruangan, penuh selidik.
"Aku..aku lagi nggak enak badan ayah" gadis itu mencoba berbohong lagi. Reysa hanya terpaku di pinggir tempat tidur, seluruh badannya terasa kaku dihantui rasa takut akan kemarahan ayahnya yang mungkin saja bisa meledak sewaktu waktu.
"Kamu sakit?" Pak Hasim bertanya seperti mencemaskan putrinya, tapi dia tahu itu hanya sakit pura pura.
Lain lagi dengan ibunya, wanita setengah baya itu hanya diam saja tapi perhatiannya tertuju pada meja belajar Reysa. Benar saja ibu Reysa berjalan menuju meja belajar itu dan mulai memeriksa semuanya satu persatu.
"I!!....." Gadis itu hendak berteriak mencegah ibunya, tapi suaranya tercekat di tenggorokan karena tatapan menusuk dari ayahnya, Reysa sangat takut dengan situasi yang dihadapinya sekarang. Tubuhnya mengejang kaku dipinggir tempat tidur.
Sang suami hanya diam memperhatikan aksi istrinya yang sedang memeriksa setiap peralatan belajar anaknya. Hingga sampai pada sebuah laci....
Reysa menahan nafas, karena disitulah tersimpan semua bukti kehamilannya. Mulai dari testpack sampai surat keterangan dokter yang pernah memeriksa kehamilannya dulu.
"Ah, betapa bodohnya aku" Reysa mengumpat didalam hati. Kenapa dia tidak membuangnya sejak dulu, tentu saja karena Reysa tidak tahu ayahnya akan menyatroni tempat kostnya seperti sekarang ini.
Srrrrrrttt!
Laci itu ditarik dan terpampang didepan mata ibu setengah baya itu empat buah testpack dan beberapa lembar kertas surat keterangan dokter. Reysa memejamkan matanya, nafas gadis itu terasa berat dan dunia seakan malas berputar untuknya kali ini.
Ibu Reysa membaca lembaran demi lembaran dokumen medis itu dan terlihat jelas semua keterangan itu atas nama putrinya Reysa Kumala Sari. Sang ibu hanya diam, tangannya bergetar memegang dokumen medis itu, tanpa berbicara sepatah katapun semua bukti kehamilan Reysa diserahkan kepada sang ayah. Pak Hasim menerimanya, sekilas dia sudah paham arti semua itu.
Tiba-tiba anak dan orang tua itu saling diam membeku, dan ruangan itu berubah menjadi dingin sedingin hati yang terluka.
Plak! Plak!
Tiba-tiba saja tangan pak Hasim sudah melayang menampar pipi anaknya, kiri dan kanan. Gadis itu langsung terjungkal ke belakang.
Hik!....hik!..... Reysa mulai terisak pipi gadis itu memerah, seumur hidupnya baru kali ini ayahnya menampar pipinya dan itu rasanya sangat perih, perihnya sampai ke lubuk hati. Sedangkan ibunya hanya diam saja seakan tidak peduli.
Ruangan itu kembali sepi, hanya sesekali terdengar Isak tangis dari Reysa yang mencoba berharap belas kasihan.
"Kemaskan semua barang-barangnya dan seret anak kurang ajar ini pulang" perintah Pak Hasim kepada istrinya. Pintu terbuka, dua orang anak buah pak Hasim masuk mengemas barang barang milik Reysa, sedangkan Reysa di tarik keluar oleh ibunya.
Tidak beberapa lama kemudian rombongan kecil itu segera berlalu dan pergi meninggalkan tempat kos-kosan Reysa. Mobil pak Hasim perlahan meluncur mulus di jalanan beraspal, namun tidak semulus pikiran orang orang yang ada di dalamnya. Pak Hasim sibuk memutar otak untuk menutupi aib yang menimpa keluarganya, lain lagi dengan sang putri tercintanya "Reysa". Gadis itu pikirannya sangat kacau, Reysa memutar otak agar bisa terhindar dari kemarahan sang ayah sesampainya di rumah nanti. Tak sanggup Reysa membayangkan, kemarahan seperti apa yang akan ia terima dari ayahnya.
Entahlah!

Posting Komentar untuk "Kupu Kupu Kertas: Salah Langkah Bahu Memikul"